Oleh : Wibisono SH MH
Kita tidak lagi menyaksikan perang proksi, atau *zona "Shadow War"* melainkan benturan langsung antar-negara (State-to-State Conflict) dengan intensitas yang melampaui Operasi Desert Storm 1991.
Perbedaan mendasar kali ini adalah hilangnya kemampuan AS untuk melakukan Escalation Dominance. Di mata dunia, hegemoni militer Barat sedang berada di titik nadir, dipaksa gagap oleh kombinasi teknologi hipersonik dan perang asimetris yang didukung oleh kontra-hegemon global pesaing AS (Cina dan Rusia).
Supremasi udara yang selama ini diagungkan oleh Pentagon dan IAF (Israeli Air Force) kini lumpuh, bukan karena kalah duel di udara (dogfight), melainkan karena kehancuran infrastruktur pangkalan udara yang tak terduga.
Fakta Teknis : Pesawat-pesawat tersebut ditembak jatuh oleh baterai Patriot milik mereka sendiri. Pesawat F-15 (kemungkinan elemen campuran USAF dan Saudi) ditembak jatuh oleh baterai Patriot sendiri. Ini bukan sekadar kesalahan komunikasi, ini adalah kegagalan sistemik identifikasi (IFF) akibat electronic poisoning pihak ketiga.
Pesawat kawan terbaca sebagai rudal musuh di layar operator radar yang sedang panik. Ini mengakibatkan kehancuran moril terbesar bagi kekuatan udara AS di teater operasi Teluk.
Penulis: Pengamat militer dan pertahanan
